Indahnya Bermain Poker di Casino Australia

Sebelum tergila-gila dengan permainan poker di situs poker online terbaik indonesia, ada pengalaman indah yang menjadi penyebab saya suka berjudi. Pada ulasan ini saya akan coba untuk menceritakan kisah tersebut secara perlahan agar pembaca bisa memahaminya.

Dulu sih namanya lokasi judi, saya benar-benar asing. Satu-satunya empiris saya berjudi hanyalah melakukan pembelian togel, atau yang masa-masa saya kecil dinamakan Nalo. Itu pun melulu sesekali membeli bila pas malamnya saya mimpi bagus. Beruntung? Enggak pernah!

Mengenai lokasi judi, sejauh memori saya melulu sesekali menyaksikan judi sabung ayam saat saya masih kecil di tahun 1970-an. Yang lainnya, pasti saja berkait dengan profesi saya sebagai wartawan. Itu juga terbatas pada tempat judi “gelap” yang cerah benderang di area Kali Jodo, Jakarta Utara, atau judi sabung ayam di Pasar Jangkrik, Jatinegara, Jakarta Timur.

Indahnya Bermain Poker Resmi di Casino Australia

Indahnya Bermain Poker di Casino Australia

Pengalaman kesatu berjudi yang bahwasannya dengan masuk lokasi tinggal judi dan mengupayakan bermain malah terjadi di Auckland, suatu kota bisnis di Selandia Baru, menjelang Lebaran lalu. Tapi tunggu dulu, tidak boleh bayangkan saya berjudi sampai menguras uang ratusan dollar. Saya melulu numpang rekan yang sedang bermain guna sekadar fun. Teman tersebut pun cuma melakukan pembelian koin 50 dollar guna beramai-ramai.

Pengalaman kesatu berjudi tersebut terjadi saat saya dan seorang wartawan televisi diundang Departemen Kebudayaan dan Pariwisata guna meliput roadshow pemulihan citra pariwisata Indonesia pascabom JW Marriott dan Ritz-Carlton di Auckland dan Sidney, Australia.

Kebetulan hotel lokasi kami menginap paling dekat dengan suatu menara kota yang dinamakan Auckland City Tower. Gedung tinggi yang puncaknya menyala biru tersebut dikenal sebagai pusat perjudian alias Casino. Kami juga beramai-ramai masuk ke gedung tersebut di malam kedua, selama pukul 23.00 masa-masa setempat.

Awalnya, saya membayangkan bila untuk masuk lokasi tinggal judi seperti tersebut akan dicek ketat, seperti saat masuk tempat-tempat judi di Jakarta. Bayangan saya, di depan pintu masuk terdapat bodyguard berbadan tinggi besar, seperti kisah teman atau yang pernah saya baca di majalah-majalah dan koran. Katanya, bodyguard tersebut akan mengecek pengunjung, khususnya yang masih asing baginya, hingga detil, tergolong menanyai berapa dana yang dibawa. Kalau tidak membawa uang cukup, kata seorang teman, tidak boleh harap dapat masuk ke lokasi tinggal judi gelap yang tidak sedikit ada di Jakarta.

Pertama Kali Berjudi

Ternyata, semua bayang-bayang tentang pengamanan tersebut sama sekali tidak ada saat saya masuk ke Casino di Auckland itu. Kami yang datang berombongan, lebih dari 10 orang termasuk semua penari-penari dan model serta biduan yang cantik-cantik, ternyata bebas-bebas saja masuk ke Casino. Seperti layaknya masuk mal, kami tidak ditanya-tanya, tidak diperiksa.

Sebagai orang awam judi, saya tadinya membayangkan, di dalam ruangan besar terdiri tiga lantai tersebut akan mendapati orang-orang sedang serius bermain judi dengan wajah berkerut-kerut seraya memegang botol minuman keras yang menebarkan wewangian tak sedap dari napasnya.

Ternyata, yang saya temukan ialah ruangan besar sarat mesin dan meja judi berderet-deret rapi. Asap cerutu memang terdapat di sebanyak tempat, namun tidak hingga menyesakkan napas. Peminum yang berjudi pun tak saya lihat. Para penjudi pun tidak tegang-tegang amat. Mereka yang lagi “beruntung” tetap duduk berlama-lama di kursi-kursi yang mengelilingi meja judinya.

Di dalam Casino, kami pun bebas-bebas saja berkeliling, menyaksikan orang-orang bermain rolet, blackjack, bakarat, jackpot, games, dan tidak sedikit jenis judi yang saya tak paham. Bahkan, saat saya duduk-duduk salah satu para penjudi tanpa ikut berjudi juga tak terdapat orang yang menegur. Tak terdapat yang mengusir.

Di meja-meja rolet yang diawaki seorang wanita muda tak cantik lagipula seksi, semua penjudi duduk-duduk manis seraya memerhatikan putaran rolet lalu menanam koin-koinnya ke nomor-nomor yang dia inginkan. Boleh dalam satu nomor, dua nomor, atau di empat nomor dalam satu kotak. Koin yang ditumpuk dapat satu, dua, sampai belasan untuk masing-masing nomor yang dia inginkan.

Tak terdapat teriakan kesal atau marah saat nomor yang dipasangi koin ternyata terlewat. Juga tak terdapat pekik kegembiraan saat biji judi berhenti di nomor yang dipasangi koin. Penjudi yang beruntung maupun yang tak beruntung tampak biasa-biasa saja.

Seorang pemuda yang sejumlah kali menemukan keuntungan pun tak segan-segan nyelonong pergi tanpa terdapat yang hirau. Tidak terdapat upaya dari si awak rolet mencegah, lagipula sampai merayu-rayu menggoda supaya si pemain bertahan di mejanya. Sebaliknya, seorang wanita muda yang kalah 20 dollar (sekitar Rp 130.000) pun terlihat biasa-biasa saja.

Ketika saya mengupayakan menawarinya duduk sebab saya tak main sedangkan dia main, dia justeru tertawa-tawa. “Keberuntungan saya malah kalau berdiri begini,” kata dia sambil mengupayakan kembali peruntungannya. Ternyata malam tersebut dia tidak beruntung di meja itu. Mungkin sebab ada saya yang mengganggu konsentrasinya? Entahlah. Yang jelas dia kesudahannya ngeloyor begitu saja seraya berpamit basa-basi untuk saya saat pada pemasangan ketiga tetap tak beruntung.

Setelah berlama-lama di meja rolet tanpa ikut bermain, saya dan sejumlah anggota rombongan lantas melanjutkan keliling ruangan. Di unsur kanan ruangan hingga ke belakang yang saya lihat hanyalah monitor komputer games, laksana halnya di Timezone. Gambarnya macam-macam. Ada kartu remi dan tidak sedikit lagi gambar-gambar yang saya tak pahami betul apa jenisnya.

Permainan Judi Online Internet

Di depan monitor, penjudi asyik memencet-mencet tombol. Pria maupun wanita, tua maupun muda. Saya beranggapan apa enaknya main judi melulu dengan menyamakan kartu di barisan kiri, tengah, dan kanan itu.

Akhirnya ikut main, Setelah puas berkeliling-keliling ruangan, tergolong memesan minuman enteng di suatu bar di dalam ruang itu, saya lantas berhenti di suatu meja rolet. Saat itu, seorang salah satu rombongan kami sedang main. “Sudahlah, duduk sini saja. Main gunakan koin ini saja,” kata seorang teman yang mengaku melulu membeli koin 50 dollar Selandia Baru.

Awalnya, saya ragu apakah diizinkan main memakai koin orang. Saya lalu mengupayakan memasang dua koin teman tersebut ke angka 17 dan 8. Ternyata koin 17 menang. Saya juga mendapat ekstra 20 koin. Merasa beruntung, saya pasang lagi lima koin di sejumlah nomor. Kali ini di antara koin saya membuahkan hasil lagi.

Lama-lama teman-teman anggota rombongan hadir ke meja kami. Koin yang tersisa kemudian digunakan beramai-ramai. Ada yang kalah terdapat yang menang, namun akhirnya seluruh koin berakhir dan kami juga ngeloyor kembali ke hotel sebab waktu telah menujukkan pukul 02.00.

Tak terdapat kesan istimewa saat kami meninggalkan lokasi tinggal judi itu. Yang terasa melulu inilah suatu kegembiraan, suatu fun, bahwa saya, sangat tidak, pernah mengupayakan berjudi. Bukan di Kalijodo ataupun sabung ayam, empiris kesatu tersebut justru di Casino. Luar biasa kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *